EDITORIAL, (LIBERDADETL.com) — Sebagian besar konflik sejarah bermula bukan pada saat peristiwa itu terjadi, melainkan ketika seseorang berusaha menuliskannya kembali. Itulah yang kini mengguncang Lospalos, menyusul terbitnya buku karya Sergio Dias Quintas, yang menampilkan ayahnya—Luirai Virissimo Dias Quintas—sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan. Namun bagi masyarakat yang menyimpan ingatan bertahun-tahun, narasi tersebut tidak hanya terasa asing, tetapi juga mengaburkan luka kolektif yang belum sepenuhnya sembuh.
Selama beberapa bulan terakhir, Tim Think Tank LIBERDADETL mengerahkan tim analisis, termasuk pengamat independen yang berbasis di luar negeri, untuk menelaah dinamika sosial-politik yang muncul dari kontroversi ini. Kesimpulan awal menunjukkan pola yang mencemaskan: upaya rekontruksi sejarah yang tidak didukung verifikasi, dan sebuah narasi personal yang memutar realitas menjadi mitologi keluarga.
Menurut penilaian tim, inti persoalan bukan sekadar persoalan gaya penulisan atau perbedaan interpretasi; melainkan distorsi sistematis terhadap peristiwa-peristiwa yang melekat dalam memori masyarakat. Dalam buku tersebut, sejumlah tindakan kekerasan yang selama ini dikaitkan dengan sosok Luirai Virissimo digeser, diperkecil, atau tak disebut sama sekali. Sebaliknya, narasi kepahlawanan dibangun melalui penambahan cerita yang tidak pernah tercatat dalam sumber lokal, catatan komunitas, maupun dokumen independen.
Pengabaian fakta itu membuat warga Lospalos merasa sejarah mereka dirampas dari tangan mereka sendiri. Tim observasi luar negeri LIBERDADETL menilai bahwa fenomena seperti ini sering muncul ketika penulisan sejarah dijadikan alat legitimasi, bukan alat pencarian kebenaran. Ketika narasi publik dibentuk berdasarkan kepentingan keluarga atau kelompok, sejarah berhenti menjadi ranah kolektif dan berubah menjadi panggung pembelaan pribadi.
Gelombang protes yang merebak di Lospalos bukanlah ledakan spontan. Ia lahir dari akumulasi frustrasi terhadap ketidakjujuran naratif yang dianggap meremehkan pengalaman masyarakat yang pernah merasakan langsung kerasnya masa konflik. Banyak warga memandang buku ini sebagai upaya menghapus kesaksian mereka, seolah-olah penderitaan yang mereka alami bukan bagian dari kebenaran sejarah, melainkan sekadar gangguan yang harus disingkirkan agar tokoh tertentu dapat ditampilkan sebagai “pahlawan tunggal.”
Tim analis kami mencatat bahwa suara penolakan tidak hanya datang dari keluarga korban, melainkan juga intelektual lokal, peneliti sejarah, aktivis HAM, dan diaspora yang mengikuti isu ini dari luar negeri. Kesamaan nada kritik menunjukkan bahwa publik tidak menolak penulisan sejarah keluarga; mereka menolak manipulasi yang mengatasnamakan sejarah.
Protes warga menyampaikan tiga tuntutan yang konsisten:
- Penarikan buku dari peredaran,
- Pernyataan maaf dari penulis,
- Pengakuan eksplisit terhadap kritik publik dan kekeliruan naratif.
Menurut evaluasi LIBERDADETL, tuntutan tersebut bukan reaksi berlebihan, tetapi langkah untuk menjaga integritas sejarah dan martabat komunitas. Sebab ketika sejarah ditulis tanpa mempertimbangkan fakta dan pengalaman mereka yang pernah berada di medan peristiwa, kejujuran publik runtuh, dan luka masyarakat diperpanjang.
Anggota analis LIBERDADETL yang berbasis di luar negeri menggarisbawahi pentingnya standar etis dalam penulisan sejarah keluarga yang bersinggungan dengan konflik, kekerasan, dan isu HAM. Dalam sejumlah negara pascakonflik, praktik memutihkan masa lalu sering kali memicu ketegangan sosial baru, merusak kepercayaan publik terhadap institusi akademik, dan menghambat rekonsiliasi nasional.
Mereka menilai bahwa kasus ini mencerminkan pola yang pernah terjadi di berbagai wilayah dunia—ketika upaya personalisasi sejarah menimbulkan gesekan antara narasi keluarga dan memori kolektif. Lospalos kini berada pada persimpangan serupa, dan respons masyarakat menunjukkan kedewasaan dalam mempertahankan integritas narasi mereka.
Analisis kami menyimpulkan bahwa kontroversi ini bukan semata konflik antara seorang penulis dan publiknya. Ia adalah pertarungan antara kebenaran sejarah dan rekayasa naratif.
Masyarakat Lospalos menunjukkan bahwa mereka tidak akan membiarkan sejarah mereka ditulis ulang demi membangun citra tokoh tertentu. Mereka menegaskan bahwa rekonsiliasi hanya mungkin terjadi jika masa lalu dihadapi apa adanya, bukan disulap menjadi kisah heroik yang menghapus konsekuensi moral.
Kini bola berada di tangan Sergio Dias Quintas. Apakah ia akan menghormati kritik publik dan memperbaiki kekeliruan naratifnya, atau tetap mempertahankan versi sejarah yang telah menyinggung luka masyarakat?
Apa pun keputusannya, satu hal pasti: kebenaran sejarah, seberapa pahit pun, tidak boleh dikubur demi keindahan cerita.











